Bahagia itu sederhana: UAS beres. Beresin tugas/catetan/file2 trus rekap hasil per-akademis-an. Nyusun rencana studi buat semester depan (berasa iya). Nyusun rencana yg pengen dikerjain step-by-step minimal buat 1 bulan kedepan, termasuk baca novel, nonton, ngumpul2, body-relaxing dan hal2 menyenangkan lainnya haha. Nyusun rencana liburan. Liat kamar berantakan gara2 naro barang dimana2 (yap packing itu menyenangkaaan hehe). Cek dan final cek semua device/gear. Berangkat-buffering-hajar tkp #1-next tkp #2-lanjut tkp #3-tkp #n-dsb dsb-buffering-balik. Kecapean tapi seneng dapet foto2 baru. Laundry and dry cleaning-EOS cleaning yg kemudian jadi hal rutin dilakukan tiap 6 bulan sekali. Nyobain hal baru emang menyenangkan. Satu sih ganjelin, nilai T yg masih nyangkut.
Selama itu ada sharing cerita sambil ketawa sama anak2, dapet temen baru, dapet pengalaman baru. Rasanya (selalu) seperti itu. Ngangenin. Tapi kali ini belajar buat bikin blueprint 1 tahun kedepan. Karna udah kerasa bgt ini menohoknya ketika ditanya, nanti mau jadi apa?
Sama orang tua. Udah bukan waktunya lagi diingetin utk terus disiplin, dibangunin, sampe ‘udah bukan waktunya lagi utk nyusahin orang lain’. Tahun ini udah 22 kak, kakak mau jadi apa? Selalu terharu karna mereka dari dulu tidak pernah memaksakan untuk jadi apa, memberikan kebebasan memilih pada anak2nya.
Sekarang udah semester delapan. Tingkat Akhir. Fase yang paling ditunggu-tunggu dari semua tahap hidup selama ini. Ya nggak sih? Hehe gue sih Iya. Pengen serius, pengen bener2 bahagiain mereka sekarang. Amin.
Dan semoga selalu menjadi hambanya yang pandai bersyukur.

Daddy-daughter’s day out, Batu Karas, Januari 2012
ada benernya juga dengan quotation ‘masuk kampus ini susah, tapi keluarnya lebih susah lagi’. ga percaya? mesti jadi mahasiswa tingkat akhir dulu. #galauTA
Mapping Mangroves by Satellite

Mangroves are among the most biologically important ecosystems on the planet, and a common feature of tropical and sub-tropical coastlines. But ground-based evidence suggests these vital coastal forests have been strained in many regions because of harvesting for food, fuel, and medicine. Now, scientists have used satellite images to compile the most comprehensive map of mangroves worldwide, which should help in future efforts in monitoring and conservation.
Mangrove forests are typically made up of trees, shrubs, and palms that have adapted to the harsh conditions of high salinity, warm air and water temperatures, extreme tides, muddy, sediment-laden waters, and oxygen-depleted soils. They are fertile nurseries for many marine species, and also serve as a first line of defense against hurricanes and tsunamis by dissipating wave and wind energy.
These maps show the location and relative density of mangroves, which cover roughly 137,760 square kilometers (53,190 square miles) of Earth’s surface. The forests can be found in 118 different countries and territories, though nearly 75 percent of their area occurs in just 15 countries.
They are most often found straddling the equator between 25º North and South latitude. About 42 percent of the world’s mangroves are found in Asia, with 21 percent in Africa, 15 percent in North and Central America, 12 percent in Australia and the islands of Oceania, and 11 percent in South America.
The effort to create the maps was led by Chandra Giri of the U.S. Geological Survey and published recently in the journal Global Ecology and Biogeography. Using digital image classification techniques, the research team compiled and analyzed more than 1,000 scenes from the Landsat series of satellites.
Giri and colleagues found 12.3 percent less area covered by mangroves than previously estimated by the United Nations Food and Agriculture Organization. The current extent of mangroves is probably half of what once existed. Only 6.9 percent of mangrove forests are protected by law.
Indonesia (center of the lower map) includes as many as 17,000 islands and nearly a quarter of the world’s mangroves. Yet those forests have been cut in half in the past three decades, shrinking from 4.2 million hectares in 1982 to 2 million in 2000. Of the remaining forests, nearly 70 percent are “in critical condition and seriously damaged,” reported Fadel Muhammad, Indonesia’s minister of fisheries and marine affairs.
Nearly a fifth of the coast of Australia (the north coast is shown above) is surrounded by mangrove-lined coast. Australia has the third largest area of mangroves in the world after Indonesia and Brazil, and approximately 6.4% of the world’s total mangrove area.
Credit NASA Earth Observatory images created by Jesse Allen, using data provided by Chandra Giri, U.S. Geological Survey. Caption by Michael Carlowicz and Laura Rocchio. Related Landsat Imagery
GEOTREK
If we take action (mitigation) and disaster is averted, there will be a massive reduction in human suffering, social lost, and physical destruction… If we take action and no disaster then little is lost and we benefit from cleaner environment…
If we do not act and disaster occurs, it will be a vast global tragedy… If we take no action and no disaster results, the outcome will be due to luck alone…
(Meilano Irwan, 2011)
call it a (tough) day
semoga bukan robot. semoga bukan termasuk si perfeksionis. semoga selalu bisa open mind. semoga selalu bisa melihat dari berbagai sisi. tidak pernah absolut. jangan pernah mutlak. kita manusia. semoga besar hati.
Ya Allah, mudah-mudahan ini sederhana. Tetapkanlah pikiran kami selalu melangit, dan dengan hati yang terus membumi (Pidi Baiq)
THIS. Terbaik Terbaik.
- 1992: Dewa 19
- 1994: Format Masa Depan
- 1995: Terbaik Terbaik
- 1997: Pandawa Lima
Lay your head on my pillow, here you can be yourself.
No one has to know our feeling
No one, but me and you.
I won’t tell your secrets, your secrets are safe with me.
I will keep your secrets,
Just think of me as the pages in your diary
-Alicia Keys, Diary
Selingan dikit gpp lah yaaaaa
Gak semudah itu ternyata kalo udah besar nanti, di rumah, kan pasti adaaa aja yang bakal dibahas. Mulai dari hal yang sepele banget sampe hal-hal besar yang emang mesti dirundingkan berdua sampe beres. Dan itu (menurut gue loh ya) ngebahasnya paling enak sama orang yang sepemikiran. Semetode. Hmmm mungkin ini salah satu bentukan yang lebih halus daripada mesti bilang ‘gak dewasa’ atau ‘susah nerima pendapat orang lain’ atau ‘emosian’. Beberapa kali terbayang kalo ntar itu enaknya punya pasangan yang nyaman diajak ngobrol, termasuk nyaman diajak debat.
Wanita, emang udah dari sononya dominan menggunakan perasaan ketika menghadapi suatu hal. Wanita cenderung menggunakan emosi dalam bertindak. Senang, sedih, bahagia, iba, pokoknya dalam hal rasa-merasa jauh lebih sensitif dari makhluk manapun di muka bumi ini hahaha. Tapi menurut gue ini suatu kelebihan karna ini yang membuat wanita indah bukan? Yaaa walaupun tetep aja ada kekurangannya, gara-gara ini wanita praktis lebih lemah daripada pria. IMHO LOH hehehehe.
Sedangkan pria, ya udah paham lah ya. Pria emang lebih santai dan lebih logis daripada wanita. Ini juga suatu kelebihan menurut gue, tapi ada kalanya menjadi suatu kekurangan. Tajam seperti dua mata pisau, bisa keren dan bisa sama sekali tidak keren. Hahaha. Logika seringkali disepakati sebagai suatu yang absolut PADAHAL yah mana ada sih didunia ini yang gak berkaitan satu sama lain. Ini yang membuat gue berpendapat kalo pria lebih arogan daripada wanita, walaupun mereka benar. Terkadang buat gue ini sedikit annoying.
Wanita ini pintar dan kritis. Terlalu sensitif bahkan. Selalu merespon apa yang gak sesuai sama pendapat beliau. Yah, naluri juga kali ya. Figur yang cocok untuk membangkitkan semangat orang serumah (tadinya mau nulis provokator tapi kok kayanya konotasinya negatif). Sedangkan sang pria, jelas lebih kalem dan manajemen emosinya lebih baik ketika mengutarakan sesuatu, dan jelas lebih absolut.
Tapi apa yang terjadi ketika pasangan ini berdebat? GAK KELAR-KELAR SAMPE LECEK UNI UDA NENG AA MAS MBAK SEKALIAN DEBATNYA. Lamaaaaaaaa banget nemu solusinya, dan itu juga kalo nemu.
1. Biasanya yang pertama melempar pernyataan adalah sang wanita, seringkali benar tapi ada kalanya tidak sepenuhnya benar
2. Biasanya pula sang wanita langsung menambahkan poin penilaiannya thp pernyataan tersebut, dan seringkali tidak menyebutkan landasan sumber apa dan darimana pernyataan itu lahir
3. Seisi rumah kemudian hening sesaat, mencoba mencerna apa yang dilempar ke udara oleh sang wanita
4. Muncul pertanyaan darimana dan bagaimana pernyataan itu muncul, apa latar belakangnya dsb, seringkali dari sang pria
5. Anak #1 dan anak #2 masih hening
6. Biasanya sang wanita langsung mengutarakan pendapat pribadi yang sifatnya subjektif. Curhat. Tidak menjawab pertanyaan yang disuguhkan oleh sang pria. Dari sinilah api-api hangat untuk berdebat muncul.
7. Sang pria mulai inisiatif memaparkan abstrak, latar belakang, sumber, hipotesis awal, data, fakta, dll. Seringkali benar, dan seringkali absolut. Keras.
8. Anak #1 dan anak #2 mulai memilih kubu
9. Sang wanita biasanya mulai ‘tinggi’ karna merasa ditantang oleh sang pria, biasanya karna sang pria memang tidak lekas setuju dengan pernyataan yang sudah terbentuk
10. Poin 6 sampai 9 diulang terus sampai tak hingga. Dan poin 8 bisa sangat dinamis.
11. Akhir debat adalah ketika sang wanita pecah pundung dan sang pria dengan santai masih merasa bahwa dirinya benar benar saja.
(fyi sang wanita berdarah minang, pria berdarah minang-aceh-medan, anak2 sedari lahir tinggal di bdg)
Sang wanita memang responsif dan curhatannya pintar, tapi pake perasaan. Sang pria jelas lebih dingin dan santai, tapi cenderung tidak menerima pendapat dari sekitarnya. Keduanya tidak secara sempurna menunaikan kegiatan verbalitas komunikasi dalam rumah tangga. Hahahahahaha apasiiihh bahasanya. Yah, tapi bisa nangkep kan ya cerita tadi maksudnya apa. Kejadian diatas pasti akan ada dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dan gue pengen banget menikmatinya. Menikmati dalam arti sebenarnya, diskusi atau apapun itu dengannya yang open mind. Secara sederhana. Dan mungkin saja ini yang membuat sulit setelah sekian lama. HUFTTT hahaha.
Now I have come to understand the way it is
It’s not a secret anymore ‘cause we’ve been through that before
From tonight I know that you’re the only one
I’ve been confused and in the dark
Now I understand
Still I wonder why it is, I don’t argue like this
With anyone but you
I wonder why it is, I won’t let my guard down
For anyone but you
We do it all the time
Blowing out my mind
-Corrine Bailey Rae, Just Like A Star


