[Flash 9 is required to listen to audio.]

“Akhir Episode”

Kiasan tak sejujurnya terucap. Kuterjebak, tanpamu

Hilang, kunanti suasana yang dahulu menyapa

Homogenic

A Decade of Earth Observation

When the Aqua satellite lifted off from Vandenberg Air Force Base, it wasn’t clear how long the 2,900 kilogram (6,400 pound) spacecraft would last. There’s much that can go wrong in the unforgiving environment of space. And for a satellite that orbits more than 705 kilometers (435 miles) above the surface and cruises about 27,000 kilometers (16,800 miles) per hour, stopping for repairs is not an option when things break.

At the time, engineers expected Aqua’s mission would be between three and five years. Ten years later, the spacecraft and the six science instruments on board are still going strong. Aqua has collected a remarkable 29 million gigabytes of data throughout the last decade. (For perspective, one gigabyte holds the contents of about 10 yards of books on a shelf; 100 gigabytes would hold a floor of books in an academic library).

Project scientist Claire Parkinson expected Aqua’s sensors would improve weather and climate forecasts due to their ability to precisely measure water vapor in the atmosphere, liquid water in the ocean, and the solid water in ice and snow. What she didn’t expect was how much Aqua would contribute in other ways. According to Parkinson, researchers have published more than 2,000 papers based on Aqua data over the past decade. The majority of these were based on data from the Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS), an instrument that measures both visible and infrared radiation, and monitors an array of environmental phenomena.

Aqua has had an impact beyond the scientific community. The satellite is used to monitor and forecast a broad range of natural hazards that affect all of us, ranging from severe storms to dust storms and haze to droughts and crop health. Aqua’s MODIS instrument has had a particularly dramatic impact on our ability to monitor the world’s fires, detecting more than 20 million actively burning fires to date.

The recently-launched Suomi NPP satellite has a number of instruments that will continue data records begun by Aqua should the satellite’s vision go dark. But here’s hoping Aqua will continue collecting data for another ten years. Check out a new gallery of a few of our favorite images from Aqua.

-

Further Reading Major, G. (2011) Impact of NASA EOS Instrument Data on the Scientific Literature: 10 Years of Published Research: Results from Terra, Aqua, and Aura. Issues in Science and Technology Librarianship,10(5062) Parkinson, C.(2002) Aqua. NASA’s Earth Observatory

terimakasih. mudah-mudahan ini sederhana. bismillah.

Nelayan dan Perebutan Ruang

…Indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita, apabila kita tidak sanggup untuk mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat kita: hidup bahagia dan makmur dalam pengertian jasmani dan rohani. (Bung Hatta)

Sudah terlalu lama menanti langkah konkret-substantif Pemprov DKI Jakarta untuk menuntaskan persoalan akut ibu kota, seperti kemacetan, banjir, polusi udara, pencemaran lingkungan, dan penyediaan ruang terbuka hijau sebesar 30 persen dari sembilan persen yang telah ada. Pembahasan RanPerDa ini membersitkan adanya perebutan tafsir atas ruang: Rancangan Peraturan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2030. Pesan kuat yang mengemuka di ruang publik adalah adanya perbedaan perspektif mendasar antara Pemprov DKI Jakarta dan mayoritas warga Jakarta.

Pemprov DKI Jakarta melihat “Ruang Jakarta” sebagai ladang ekonomi yang bisa menggeser keselamatan warga tak berdaya. Dalam perspektif ini, nelayan, buruh, dan masyarakat miskin kota lainnya lebih ditempatkan sebagai warga negara kelas dua. Pembedaan perlakuan ini jelas bertolak belakang dengan prinsip kewargaan demokratis: Kewargaan adalah mengenai memperlakukan orang sebagai individu dengan hak yang sama dalam hukum (Willy Kymlicka).

Wujud diskriminasi yang dirasakan adalah semakin jelasnya ancaman pengkaplingan laut dan pesisir lewat Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP3) yang menjadi pusat kehidupan dan sumber penghidupan nelayan dan masyarakat pesisir untuk kepentingan personal dan atau kelompok tertentu. Sudah lebih dari setahun proses uji materi berlangsung, namun pembacaan keputusan uji materi UU tersebut oleh Mahkamah Konstitusi tak kunjung disampaikan ke hadapan publik. 

Jika spirit ini dijadikan sebagai prinsip dasar pemanfaatan ruang perairan atau pesisir, maka kewargaan demokratis seketika akan berhenti memfungsikan dirinya sebagai alat untuk membangun rasa komunitas (integratif) dan akal sehat tujuan. Fakta ini akan memicu pertumbuhan sekat-sekat sosial, perpecahan, dan fundamentalisme pasar, dengan risiko menghilangkan keadaban sosial yang meritokratik dan menggantikannya dengan hukum rimba yang serba mediokratik. Padahal, bangsa ini didirikan untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat.

Olehnya, pencabutan klausul HP3 di dalam pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2030 merupakan upaya konkret-substantif yang harus dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta guna memenuhi rasa keadilan, keselamatan, dan kesejahteraan nelayan sebagai pahlawan protein dan penjaga kedaulatan di batas negara yang kini hanya bisa menyantap enceng gondok sebagai pengisi perut di negeri yang konon berjaya di lautan.

Here we go, come with me…
There’s a world out there that we should see…
Take my hand, close your eyes…
With you right here, I’m a rocketeer

Let’s fly… where we stop nobody knows…

(Source: Spotify)

CUDDLE FUDDLE by DEDDY